Aku duduk di tengah rerumput. Di antara
semilir angin dan desingan mobil serta
motor. Di antara pepohon yang dengan daun rimbunnya membuat matahari tidak
terlampau terik. Di antara para muda-mudi yang tengah berlatih tari bersama
komunitasnya. Pun diantara keluarga yang menghabiskan akhir pekan mereka bersama,
melingkar dan menyantap makan siang diatas rumput yang sama denganku, di tempat
yang sama, di taman yang setiap sudutnya sarat dengan nilai sejarah. Taman
Putroe Phang.
Beralaskan hijaunya rumput, aku terdiam
di salah satu sudut taman. Terdiam dengan pikiran yang jauh berbeda ketika aku
datang kesini satu setengah jam yang lalu, satu setengah jam terakhir sempurna
menambah kecintaanku pada kota kecil ini, Banda Aceh.